Selasa, 03 Januari 2017



NITYA KARMA PUDJA
Doa Sehari-Hari

A.    Umum
Manusia tidak hanya merupakan obyek ciptaan Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa, melainkan sebagi pelaku aktif yang dituntut untuk mewujudkan pandangan keagamaannya dalam kehidupan nyata. Penghayatan imam seperti itu adalah penghadapan dan pertanggung jawabana keimanan kepada hidup dan kehidupan. Keimanan bukanlah suatu yang abstrak dan berdiri lepas dari kehidupan, melainkan ia merupakan bagian utama dari kehidupan, kerena ia harus mengarahkan kehidupan itu pada suatu keadaan yang dikehendaki Hyang Widhi Wasa.
B.     Pengertian
Nitya karma pudja adalah tuntunan dalam melaksanakan persembahyangan sehari-hari dan doa tertentu yang berhubungan dengan kebutuhan manusi hidup atau menyangkut orag yang telah meninggal dunia. Sembahyang atau muspa adalah saat tertentu bagi umat Hindu untuk menghubungkan diri kepada Hyang Widhi.
Doa adalah stawa, mantra, brahma, pujian/puja. Pujian/puja ditunjukan kepada Hyang Widhi beserta manifestasi kekuasaannya agar tercapainya suatu tujuan di maksudkan dalam doa itu.
Di dalam persembahyangan itu Hyang Widhi akan menampakkan dirinya atau dekat dan mendengarkan doa yang diucapkan itu. Hyang Widhi telah mengisyaratkan kepada manusia bahwa ia hanya dapat memenuhi keinginan manusia/mahliknya yang senantiasa mendekatkan diri kepadaNya.
C.    Persyaratan
1.      Pakaian. Pada waktu melaksanakan doa, pakaian harus bersih/rapa dan memakai selendang, yang mencerminkan menunggalnya dasa indria menjadi satu, yaitu cipta, rasa, karsa semuanya bersatu menujunkepada Hyang Widhi Wasa.
2.      Tidak dalam cuntaka, yaitu tidak sedang haid(dating bulan), tidak salah timpal (bersenggaman dengan hewan), tidak dalam keadaan berkabung Karena kematian keluarga dan sebagainya.
3.      Dalam keadaan bersih. Sebelum memanjatkan doa, bila keadaan mengijinkan , hendaknya terlebih dahulu mandi. Apabila tidak mungkin, maka cukup mencuci tangan, muka dan daki. Bila semuanya itu tidak mungkin, maka cukup memusatkanpikiran.
4.      Sarana. Bila keadaan memungkinkan, sebaiknya memakai sarana, misalnya bunga, dupa air,canag atau lebih besar memakai canang daksina, air suci atau tirtaha, asep kukus arum/dupa,lebih besar dari itupun boleh jika dimungkinkan oleh keadaan. Sarana yang kami dimukakan disini adalah sarana untuk Nitya Karma Pudja.
D.    Sikap
1.      Dalam berdo’a/mengucapkan mantra Hayatri, sikap tangan betbentuk kojong yang disebuy “Amustikarana”, yang menggambarkan manunggalnya bayu,-sabda-odep/cipta-rasa-karsa. Ujung jari tengah yang melepit kembang ditempatkan di depan ulun hati, hingga tersentuh pandangan 45 derajat kedepan.
2.      . dalam melaksanakan muspa, tangan dicakupkan dan ibu jari menyentuh ubun-ubun dengan ujung tangan merapat” dalam muspe puyung tangan tida memakai apa-apa, dalam muspa kembang tangan pada ujungnya melepit bunga: dalam muspa kwangen tangan pada ujungnya melepit kwangen,
3.      Sikap tangan pada waktu mendo’akan orang  meninggal dunia, tangan dicakupkan di depan dada dan pandangan kearah jenazah. Tangan melepit kembang san setelah selesai, kembang itu ditaruh pada jenazah.
4.      Sikap tangan mendo’akan arwah leluhur/orang yang telah meninggal dunia dan sudah diaben, tangan dicakupkan didapan hidung dengan ujungnya setinggi ubun=ubun.
5.      Do’a lainnya disesuaokan dengan keadaan, misalnya do’a mandi, bangun pagi dan sebagainya.
6.      Sikap duduk untuk laki-laki brsila(padmasana) dean wanita bersimpuh(bajrasana). Bila keadaan tidak memungkinkan , maka dapat disesuaikan dengan keadaan.
E.     Persembahyangan
1.      Umum.sessaat persembahyangan akan dimulai dan peserta sudah duduk maka disiratkan Tirtha prayascita/pembersihan agar terpusatnya/terkonsentrasinya pikiran pada Hyang Widhi. Selama berlangsungnya persembahyangan para peserta tenang dan cipta-rasa-karsa ditunjukan kepada Hyang Widhi. Setelah selesai dan akan meninggalkan pura(sanggah), merajan, para peserta secara sendiri wajib mepamit.
2.      Muspa. Pelaksanaan muspa pada dasarnya empat kali. Pertama muspa kosong/puyung yang mengandung makna bahwa kita menghadap Hyang Widhi  dengan hati bersih dan kosong serta minta kepada Hyang Widhi agar hati kita yang kosong itu diisi dengan pengetahuan suci/diterangi dengan sinar sucu Hyang Widhi. Kedua muspa memakai kembang/ bunga yang mengandung maksud bahwa pengetahuan, sinar suci Hyang Widhi kita kembangkan/amalkan kepada keluarga, sesame manusia, bangsa dan negara dalam mencapai kebahagian lahir dan batin. Ketiga adalah muspa memakai kangen, yang mengandung makna bahwa amal dan perbuatan yang kita lakukan  adalah untuk mewangikan/mengharumkan nama keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Keempat adalah muspa kosong/puyung maknanya bahwa kita manusia berasal dari tidak ada /diciptakan oleh Hyang Widhi akhirnya kembali kepada Hyang Widhi(meninggal dunia). Pada persembahyangan Naimitika Karma Pudja. Muspa dilakukan lima kali “panca sembah” mantranya disesuaikan dengan upacaranya(hari raya).
3.      Metirtha, wasupada meliputi meketis /menyiratkan tietha, mesugi(meraup) mencuci muka dan minum yang dilaksanakan tigakala tiga kali dn masing-masing disebut”Tirtha pawira-jati”, thirta Kaman dalu dan tirtha kundalini.
4.      Mebija adalah menempelkan bija(beras)pada dahi, pelipis dada dan dimakan, yang dilaksanakan dengan mengikuti perpitaran jarum jam (purwadaksina/daksinayana).
Sumber buku Nitya Karma Pudja oleh Drs. I G. K ADI WIRATMADJA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar