NITYA KARMA PUDJA
Doa Sehari-Hari
A. Umum
Manusia
tidak hanya merupakan obyek ciptaan Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa, melainkan
sebagi pelaku aktif yang dituntut untuk mewujudkan pandangan keagamaannya dalam
kehidupan nyata. Penghayatan imam seperti itu adalah penghadapan dan
pertanggung jawabana keimanan kepada hidup dan kehidupan. Keimanan bukanlah
suatu yang abstrak dan berdiri lepas dari kehidupan, melainkan ia merupakan
bagian utama dari kehidupan, kerena ia harus mengarahkan kehidupan itu pada
suatu keadaan yang dikehendaki Hyang Widhi Wasa.
B. Pengertian
Nitya karma pudja adalah
tuntunan dalam melaksanakan persembahyangan sehari-hari dan doa tertentu yang
berhubungan dengan kebutuhan manusi hidup atau menyangkut orag yang telah
meninggal dunia. Sembahyang atau muspa adalah saat tertentu bagi umat Hindu
untuk menghubungkan diri kepada Hyang Widhi.
Doa adalah stawa, mantra,
brahma, pujian/puja. Pujian/puja ditunjukan kepada Hyang Widhi beserta
manifestasi kekuasaannya agar tercapainya suatu tujuan di maksudkan dalam doa
itu.
Di dalam persembahyangan
itu Hyang Widhi akan menampakkan dirinya atau dekat dan mendengarkan doa yang
diucapkan itu. Hyang Widhi telah mengisyaratkan kepada manusia bahwa ia hanya
dapat memenuhi keinginan manusia/mahliknya yang senantiasa mendekatkan diri
kepadaNya.
C. Persyaratan
1. Pakaian.
Pada waktu melaksanakan doa, pakaian harus bersih/rapa dan memakai selendang,
yang mencerminkan menunggalnya dasa indria menjadi satu, yaitu cipta, rasa,
karsa semuanya bersatu menujunkepada Hyang Widhi Wasa.
2. Tidak
dalam cuntaka, yaitu tidak sedang haid(dating bulan), tidak salah timpal
(bersenggaman dengan hewan), tidak dalam keadaan berkabung Karena kematian
keluarga dan sebagainya.
3. Dalam
keadaan bersih. Sebelum memanjatkan doa, bila keadaan mengijinkan , hendaknya
terlebih dahulu mandi. Apabila tidak mungkin, maka cukup mencuci tangan, muka
dan daki. Bila semuanya itu tidak mungkin, maka cukup memusatkanpikiran.
4. Sarana.
Bila keadaan memungkinkan, sebaiknya memakai sarana, misalnya bunga, dupa air,canag
atau lebih besar memakai canang daksina, air suci atau tirtaha, asep kukus
arum/dupa,lebih besar dari itupun boleh jika dimungkinkan oleh keadaan. Sarana
yang kami dimukakan disini adalah sarana untuk Nitya Karma Pudja.
D. Sikap
1. Dalam
berdo’a/mengucapkan mantra Hayatri, sikap tangan betbentuk kojong yang disebuy
“Amustikarana”, yang menggambarkan manunggalnya
bayu,-sabda-odep/cipta-rasa-karsa. Ujung jari tengah yang melepit kembang
ditempatkan di depan ulun hati, hingga tersentuh pandangan 45 derajat kedepan.
2. .
dalam melaksanakan muspa, tangan dicakupkan dan ibu jari menyentuh ubun-ubun
dengan ujung tangan merapat” dalam muspe puyung tangan tida memakai apa-apa,
dalam muspa kembang tangan pada ujungnya melepit bunga: dalam muspa kwangen
tangan pada ujungnya melepit kwangen,
3. Sikap
tangan pada waktu mendo’akan orang
meninggal dunia, tangan dicakupkan di depan dada dan pandangan kearah
jenazah. Tangan melepit kembang san setelah selesai, kembang itu ditaruh pada
jenazah.
4. Sikap
tangan mendo’akan arwah leluhur/orang yang telah meninggal dunia dan sudah
diaben, tangan dicakupkan didapan hidung dengan ujungnya setinggi ubun=ubun.
5. Do’a
lainnya disesuaokan dengan keadaan, misalnya do’a mandi, bangun pagi dan
sebagainya.
6. Sikap
duduk untuk laki-laki brsila(padmasana) dean wanita bersimpuh(bajrasana). Bila
keadaan tidak memungkinkan , maka dapat disesuaikan dengan keadaan.
E. Persembahyangan
1. Umum.sessaat
persembahyangan akan dimulai dan peserta sudah duduk maka disiratkan Tirtha
prayascita/pembersihan agar terpusatnya/terkonsentrasinya pikiran pada Hyang
Widhi. Selama berlangsungnya persembahyangan para peserta tenang dan
cipta-rasa-karsa ditunjukan kepada Hyang Widhi. Setelah selesai dan akan
meninggalkan pura(sanggah), merajan, para peserta secara sendiri wajib mepamit.
2. Muspa.
Pelaksanaan muspa pada dasarnya empat kali. Pertama muspa kosong/puyung yang
mengandung makna bahwa kita menghadap Hyang Widhi dengan hati bersih dan kosong serta minta
kepada Hyang Widhi agar hati kita yang kosong itu diisi dengan pengetahuan
suci/diterangi dengan sinar sucu Hyang Widhi. Kedua muspa memakai kembang/
bunga yang mengandung maksud bahwa pengetahuan, sinar suci Hyang Widhi kita
kembangkan/amalkan kepada keluarga, sesame manusia, bangsa dan negara dalam
mencapai kebahagian lahir dan batin. Ketiga adalah muspa memakai kangen, yang
mengandung makna bahwa amal dan perbuatan yang kita lakukan adalah untuk mewangikan/mengharumkan nama
keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Keempat adalah muspa kosong/puyung
maknanya bahwa kita manusia berasal dari tidak ada /diciptakan oleh Hyang Widhi
akhirnya kembali kepada Hyang Widhi(meninggal dunia). Pada persembahyangan
Naimitika Karma Pudja. Muspa dilakukan lima kali “panca sembah” mantranya
disesuaikan dengan upacaranya(hari raya).
3. Metirtha,
wasupada meliputi meketis /menyiratkan tietha, mesugi(meraup) mencuci muka dan
minum yang dilaksanakan tigakala tiga kali dn masing-masing disebut”Tirtha
pawira-jati”, thirta Kaman dalu dan tirtha kundalini.
4. Mebija
adalah menempelkan bija(beras)pada dahi, pelipis dada dan dimakan, yang
dilaksanakan dengan mengikuti perpitaran jarum jam (purwadaksina/daksinayana).
Sumber buku Nitya Karma Pudja oleh Drs. I G. K ADI
WIRATMADJA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar