Selasa, 03 Januari 2017



            “KAJIAN NILAI PENDIDIKAN YANG TERKANDUNG DALAM SENI TARI SRAMANAN DESA KARANG SILUMAN CAKRANEGARA TIMUR”

Definisi Tari

A.    Pengertian seni tari
Tari adalah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan disebuah tempat dan waktu untuk mengungkapkan perasaan, pikiran dan maksud tertentu. adapun definisi tari yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu:
·         Soedarsono, menyatakan bahwa tarian adalah ekspresi jiwa manusia melalui gerak nitmis yang indah.
·         yulianti parani, menyatakan tari adalah gerak-gerak ritmis sebagian atau seluruhnya dari tubuh yang terdiri dari pola individual atau kelompok yang disertai ekspresi tertentu.
·         Curts Sachs, tari adalah gerak yang ritmis.
kesimpulan dari ketiga para ahli diatas, maka tari adalah Gerak-gerak ritmis dari anggota tubuh sebagai ekspresi dan pengungkapan perasaan dari si penari yang mengikuti alunan music yang fungsinya memperkuat maksud yang ingin disampaikan. jadi tari tidak hanya asal gerakan anggota tubuh, namun memiliki maksud dan makna tertentu yang ingin disampaikan si penari.

B.     Fungsi Tari
salah satu fungsi dari tari adalah sebai ekpresi dan pengungkapan perasaan dari si penari. dimana manusia adalah mahluk social yang harus berkomunikasi dengan pihak lain yaitu manusia dan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam kehidupan bermasyakata fungsi tari adala:
1.      Peristiwa Kehidupan, yaitu upacara adat pada peristiwa kehidupan umumnya berhubungan dengan kehidupan manusia, contohnya peristiwa perkawinan, kelahiran, hingga kematian.
2.      Sebagai Sarana Pergaulan, manusia merupakan mahluk social yang membutuhkan intiraksi dengan mahluk lain sehingga munculah keakraban.
3.      Sebagai tontonan, jenis tarian yang dihadirkan sebagai hiburan semata. Diharapkan penontonyang menyaksikan tarian ini akan merasa terhibur.

C.     Unsur seni tari
Seni tari yaitu gerakan anggota tubuh secara ritmik yang diikutu oleh iringan music. Dari kesimpulan diatas senitari terdiri atas beberapa unsur-unsur dari seni tari tersebut, unsur-unsur dari seni tari yaitu :
1.      Ragam gerak, gerak merupakan unsur utama dan juga unsur estetika dari tari. Geraan dari tari berasal dari anggota tubuh. Anggota tubuh yang dapat digunakan untuk menari yaitu anggota tubuhbagian atas, bagian tengah dan bagian bawah, dimana anggota tubuh bagian atas berupa kepala, mata dan raut wajah.
2.      Bentuk iringan, bentuk iringan tari dapat berupa jenis music iringan tari internal dan jenis musik iringan tari eksternal. Jenis music iringan tari internal yaitu iringan yangberasal dari tubuh penari itu sendiri.
3.      Kostum tari, suatu estetika yang tidak dapat dipisahkan dari wujud tarian yang dirancang sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan keindahan dari penontonnya.
4.      Pola lantai adalah posisi yang dilakukan baik oleh penari tunggal maupun penari kelompok.

 Tarian Sramanan

            Tari sramanan adalah tarian yang ditarikan oleh muda-mudi ataupun tamu yang laki-lakidimana tarian ini merupakan tarian khusus untuk anak laki-laki yang bertujuan untuk memusatkan pikiran pada saat persembahyangan berlangsung. Tari sramana pertama kali ditari sejak berdirinya pemaksan Rendang yang dimana dulunya tarian sramanan ini membawa keris, namun seiring berjalannya waktu penari sramana yang tadinya membawa keris diganti membawa tombak atau tongkat yang berisi bendera. TariSramanan hanya ditarikan di pemaksan Rendang pada saat pujawali sebelum acara persembahyangan dimulai dan pada saat ngelukar yang merupan hari terakhir dari runtutan acara pujawali. Adapun gerakannya biasa sajahanya saja membawa tombak yang berisi bendera, Makna dari gerakan tari sramanan adalah menyiapkan kesigapan dari semua warga atau pengurus pumaksan Rendang dalam menyukseskan proses acara pujawali di pemaksan Rendang. Tari sramanan harus ditarikan oleh orang yang pikirannya tenang, senang, dan suci. Tari sramanan ditarikan oleh muda-mudi generasi penerus yang mempunyai niat tulus untuk menari tanpa terkecuali, dimana penari yang menarikan ini harus mempunyai pasangan atau berkelompok, satu kelompok terdiri dari 2 orang kemudian mengeliligi bendera sebanyak tiga kalisambil membawa tombak yang berisi bendera setelah itu bertukaran tempat, setelah itu digantikan oleh kelompok yang lain,  begitu seterusnya selama masih ada yang mau menari secara iklas, namun tarian ini tidak mengunakan seragam atau pakaian yang khusus seperti tarian lainnya, tetapi gambelan atau lagunya yang khusus. Tari sramanan ini tidak pernah ditarikan pada pura–pura atau pemaksan lain karena tarian ini merupakan tarian khas atau khusus di pemaksan Rendang. Adapun proses tarian sramanan ini yaitu dimulai dari sebelum acara persembahyangan dimulai dan pada saat ngelukar sebagai penutup acara pujawali (odalan)

 Pemaksan Rendang

            Pemaksan Rendang merupakan pemaksan yang terletak di karang siluman cakra Negara Timurdi jl. Anta boga,  yang di urus oleh 65 warga karang siluman yang merupakan anggota banjar yang mengamong pemaksan Rendang. Adapun pujawali pemaksan Rendang ini jatuh pada hari selasa keliwon wuku prangbakat atau sering disebut anggarekasih prangbakat yaitu jatuh pada 6bulan sekali atau 210 hari. Adapun runtutan acaranya selama 3 hari, yaitu dimulai dari hari senin yaitu sehari sebelum pujewali yang biasa disebut mendak tirtha, dan hari yang kedua yaitu hari selasa puncak acara pujawali, kemudian hari yang ketiga yaitu hari rabu yang merupakan hari terakhir dari runtutan acara pujawali yaitu ngelukar. pujawali di pemaksan Rendang ini biasa dipuput oleh sulinggih atau pedanda. Adapun keunikan dari pemaksan Rendang yaitu berupa seni tari dan acara pujewali di pemaksan Rendang dilaksanakan pada malam hari hingga larut malam berbeda dengan acara dipura lain.Dimana pengurus-pengurus pemaksan Rendang sudah berusaha utuk pelaksanaan pujawalinya dipercepat mulainya agar tidak sampai larut malam namun ada saja kendala yang menghadangi untuk berjalannya proses pujawali dipemaksan Rendang. Setelah dideteksi oleh para pengurus ternyata kalau dilogikakan kenapa pujewali dipemaksan Rendang tidak biasa dimajukan karena dipemaksan Rendang mempunyai pesimpangan atau pelinggih gunung pengsong yang dimana pujawalinya bersamaan jadi Ida Bhatara yang berstana di pemaksan Rendang harus menunggu setelah acara pujawali di gunung pengsong.

 Nilai Pendidikan

            Nilai pendidikan adalah suatu yang diyakini kebenarannya dan mendorong orang untuk berbuat positif dalam kehidupannya sendiri atau bermasyarakat. Sehingga nilai pendidikan dalam seni atau tarian sramanan disini yang dimaksud adalah nilai-nilai yang bertujuan mendidikseseorang atau individu agar menjadi manusia yang baik dalam arti pendidikan, terutama pada saat acara persembahyangan hal utama yang diharapkan adalah ketulusan hati untuk melaksana persembahyangan dimana maksud dari ketulusan hati disini adalah dalam melaksanakan persembahyangan tidak ada rasa berat atau tidak iklas melaksanakan persembahyangan tersebut, karena persembahyangan yang dilaksanakan tanpa dasar hati yang tulus iklas maka tidak ada artinya kita melakukan persembahyangan, kemudian ketenangan pikiran, ketenangan pikiran disini maksudnya adalah dalam melaksanakan persembahyangan pikiran kita harus tenang dan suci, tidak memikirkan hal-hal yang negatif, selain itu Makna dari gerakan tari sramanan adalah menyiapkan kesigapan dari semua warga atau pengurus pemaksan Rendang dalam menyukseskan proses acara pujawali di pemaksan Rendang.
           


KESIMPULAN.

                             Tari adalah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan disebuah tempat dan waktu untuk mengungkapkan perasaan, pikiran dan maksud tertentu. Tari sramanan adalah tarian yang ditarikan oleh muda-mudi ataupun tamu yang laki-laki dimana tarian ini merupakan tarian khusus untuk anak laki-laki yang bertujuan untuk memusatkan pikiran pada saat persembahyangan berlangsung. Tari sramana pertama kali ditari sejak berdirinya pemaksan Rendang yang dimana dulunya tarian sramanan ini membawa keris, namun seiring berjalannya waktu penari sramana yang tadinya membawa keris diganti membawa tombak atau tongkat yang berisi bendera. Tari Sramanan hanya ditarikan di pemaksan Rendang pada saat pujawali sebelum acara persembahyangan dimulai dan pada saat ngelukar yang merupan hari terakhir dari runtutan acara pujawali.Nilai pendidikan adalah suatu yang diyakini kebenarannya dan mendorong orang untuk berbuat positif dalam kehidupannya sendiri atau bermasyarakat. Sehingga nilai pendidikan dalam seni atau tarian sramanan disini yang dimaksud adalah nilai-nilai yang bertujuan mendidik seseorang atau individu agar menjadi manusia yang baik dalam arti pendidikan, terutama pada saat acara persembahyangan hal utama yang diharapkan adalah ketulusan hati untuk melaksana persembahyangan dimana maksud dari ketulusan hati disini adalah dalam melaksanakan persembahyangan tidak ada rasa berat atau tidak ikhlas melaksanakan persembahyangan tersebut, karena persembahyangan yang dilaksanakan tanpa dasar hati yang tulus iklas maka tidak ada artinya kita melakukan persembahyangan, kemudian ketenangan pikiran, ketenangan pikiran disini maksudnya adalah dalam melaksanakan persembahyangan pikiran kita harus tenang dan suci, tidak memikirkan hal-hal yang negative,








NITYA KARMA PUDJA
Doa Sehari-Hari

A.    Umum
Manusia tidak hanya merupakan obyek ciptaan Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa, melainkan sebagi pelaku aktif yang dituntut untuk mewujudkan pandangan keagamaannya dalam kehidupan nyata. Penghayatan imam seperti itu adalah penghadapan dan pertanggung jawabana keimanan kepada hidup dan kehidupan. Keimanan bukanlah suatu yang abstrak dan berdiri lepas dari kehidupan, melainkan ia merupakan bagian utama dari kehidupan, kerena ia harus mengarahkan kehidupan itu pada suatu keadaan yang dikehendaki Hyang Widhi Wasa.
B.     Pengertian
Nitya karma pudja adalah tuntunan dalam melaksanakan persembahyangan sehari-hari dan doa tertentu yang berhubungan dengan kebutuhan manusi hidup atau menyangkut orag yang telah meninggal dunia. Sembahyang atau muspa adalah saat tertentu bagi umat Hindu untuk menghubungkan diri kepada Hyang Widhi.
Doa adalah stawa, mantra, brahma, pujian/puja. Pujian/puja ditunjukan kepada Hyang Widhi beserta manifestasi kekuasaannya agar tercapainya suatu tujuan di maksudkan dalam doa itu.
Di dalam persembahyangan itu Hyang Widhi akan menampakkan dirinya atau dekat dan mendengarkan doa yang diucapkan itu. Hyang Widhi telah mengisyaratkan kepada manusia bahwa ia hanya dapat memenuhi keinginan manusia/mahliknya yang senantiasa mendekatkan diri kepadaNya.
C.    Persyaratan
1.      Pakaian. Pada waktu melaksanakan doa, pakaian harus bersih/rapa dan memakai selendang, yang mencerminkan menunggalnya dasa indria menjadi satu, yaitu cipta, rasa, karsa semuanya bersatu menujunkepada Hyang Widhi Wasa.
2.      Tidak dalam cuntaka, yaitu tidak sedang haid(dating bulan), tidak salah timpal (bersenggaman dengan hewan), tidak dalam keadaan berkabung Karena kematian keluarga dan sebagainya.
3.      Dalam keadaan bersih. Sebelum memanjatkan doa, bila keadaan mengijinkan , hendaknya terlebih dahulu mandi. Apabila tidak mungkin, maka cukup mencuci tangan, muka dan daki. Bila semuanya itu tidak mungkin, maka cukup memusatkanpikiran.
4.      Sarana. Bila keadaan memungkinkan, sebaiknya memakai sarana, misalnya bunga, dupa air,canag atau lebih besar memakai canang daksina, air suci atau tirtaha, asep kukus arum/dupa,lebih besar dari itupun boleh jika dimungkinkan oleh keadaan. Sarana yang kami dimukakan disini adalah sarana untuk Nitya Karma Pudja.
D.    Sikap
1.      Dalam berdo’a/mengucapkan mantra Hayatri, sikap tangan betbentuk kojong yang disebuy “Amustikarana”, yang menggambarkan manunggalnya bayu,-sabda-odep/cipta-rasa-karsa. Ujung jari tengah yang melepit kembang ditempatkan di depan ulun hati, hingga tersentuh pandangan 45 derajat kedepan.
2.      . dalam melaksanakan muspa, tangan dicakupkan dan ibu jari menyentuh ubun-ubun dengan ujung tangan merapat” dalam muspe puyung tangan tida memakai apa-apa, dalam muspa kembang tangan pada ujungnya melepit bunga: dalam muspa kwangen tangan pada ujungnya melepit kwangen,
3.      Sikap tangan pada waktu mendo’akan orang  meninggal dunia, tangan dicakupkan di depan dada dan pandangan kearah jenazah. Tangan melepit kembang san setelah selesai, kembang itu ditaruh pada jenazah.
4.      Sikap tangan mendo’akan arwah leluhur/orang yang telah meninggal dunia dan sudah diaben, tangan dicakupkan didapan hidung dengan ujungnya setinggi ubun=ubun.
5.      Do’a lainnya disesuaokan dengan keadaan, misalnya do’a mandi, bangun pagi dan sebagainya.
6.      Sikap duduk untuk laki-laki brsila(padmasana) dean wanita bersimpuh(bajrasana). Bila keadaan tidak memungkinkan , maka dapat disesuaikan dengan keadaan.
E.     Persembahyangan
1.      Umum.sessaat persembahyangan akan dimulai dan peserta sudah duduk maka disiratkan Tirtha prayascita/pembersihan agar terpusatnya/terkonsentrasinya pikiran pada Hyang Widhi. Selama berlangsungnya persembahyangan para peserta tenang dan cipta-rasa-karsa ditunjukan kepada Hyang Widhi. Setelah selesai dan akan meninggalkan pura(sanggah), merajan, para peserta secara sendiri wajib mepamit.
2.      Muspa. Pelaksanaan muspa pada dasarnya empat kali. Pertama muspa kosong/puyung yang mengandung makna bahwa kita menghadap Hyang Widhi  dengan hati bersih dan kosong serta minta kepada Hyang Widhi agar hati kita yang kosong itu diisi dengan pengetahuan suci/diterangi dengan sinar sucu Hyang Widhi. Kedua muspa memakai kembang/ bunga yang mengandung maksud bahwa pengetahuan, sinar suci Hyang Widhi kita kembangkan/amalkan kepada keluarga, sesame manusia, bangsa dan negara dalam mencapai kebahagian lahir dan batin. Ketiga adalah muspa memakai kangen, yang mengandung makna bahwa amal dan perbuatan yang kita lakukan  adalah untuk mewangikan/mengharumkan nama keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Keempat adalah muspa kosong/puyung maknanya bahwa kita manusia berasal dari tidak ada /diciptakan oleh Hyang Widhi akhirnya kembali kepada Hyang Widhi(meninggal dunia). Pada persembahyangan Naimitika Karma Pudja. Muspa dilakukan lima kali “panca sembah” mantranya disesuaikan dengan upacaranya(hari raya).
3.      Metirtha, wasupada meliputi meketis /menyiratkan tietha, mesugi(meraup) mencuci muka dan minum yang dilaksanakan tigakala tiga kali dn masing-masing disebut”Tirtha pawira-jati”, thirta Kaman dalu dan tirtha kundalini.
4.      Mebija adalah menempelkan bija(beras)pada dahi, pelipis dada dan dimakan, yang dilaksanakan dengan mengikuti perpitaran jarum jam (purwadaksina/daksinayana).
Sumber buku Nitya Karma Pudja oleh Drs. I G. K ADI WIRATMADJA